Pendidikan
Kedaulatan Rakyat Dalam Pandangan Muhammad Hatta
Oleh:
Heni Masruroh
Abstrak:
Pendidikan merupakan kebutuhan vital yang harus dimiliki oleh setiap orang.
Pentingnya pendidikan ternyata sudah ada dalam benak para pendiri Bangsa (the founding father) sejak zaman sebelum
kemerdekaan. Salah satu Bapak pendiri bangsa kita yang memikirkan mengenai
pentingnya pendidikan yaitu Muhammad Hatta. Selama ini, Muhammad Hatta
merupakan sosok yang identik dengan Teori Ekonominya yang diimplementasikan
berupa adanya koperasi pada saat ini. namun, di sisi lain ternyata Muhammad
Hatta juga mempunyai pemikiran dalam
bidang pendidikan. Pemikiran beliau berupa pendidikan ini digagas melalui
pendirian Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru) , pendidikan ini berbasis
pada pendidikan kedaulatan ra’jat yang
mempunyai dalam implementasiya berupa Pendidikan Politik, Pendidikan Ekonomi
dan Pendidikan sosial. Gagasan mengenai PNI ini sekitar tahun 1934-1935. Hal
ini menunjukkan ketajaman berfikir dari sosok Muhammad Hatta, bahwa nantinya
ketiga pilar Pendidikan Nasional Indonesia (PNI) dibutuhkan oleh masyarakat
Indonesia.
Keyword:
PNI, Pendidikan, Muhammad Hatta
Selama
ini Muhammad Hatta merupakan sosok yang identik dengan sebutan sebagai Bapak
Koperasi, namun disisi lain Muhammad Hatta ternyata juga mempunyai pemikiran
dalam bidang pendidikan. Beliau merupakan sosok yang dikenal sebagai orator,
tidak jauh beda dengan Soekarno. Namun, hal yang membedakan antara Muhammad
Hatta dengan Soekarno, yaitu Muhammad Hatta merupakan sosok penulis ulung.
Banyak buku yang ditulis oleh Muhammad Hatta. Hal ini dibuktikan bahwa ketika
beliau meninggal, beliau meninggalkan 30.000 judul buku. Buku yang ditulis oleh
berupa buku-buku yang bernuansa politik, ekonomi maupun demokrasi.
Muhammad Hatta meneriakkan tangis pertamanya pada 12 Agustus
1902. Seorang bayi keturunan minang (Bukit Tinggi) hasil pernikahan antara
Saleha dengan Muhammad Djamil. Muhammad Hatta lahir dari keluarga terpandang,
pertalian antara pemuka agama dan saudagar. Kakek dari Muhammad Hatta yang
berasal dari ayahnya (Muhammad Djamil) adalah seorang pemuka agama, beliau
bernama Syekh Abdurrahman atau lebih
dikenala sebagai Syekh Batu Hampar. Jika menelisik lebih dalam mengenai
kehidupan Muhammad Hatta, beliau dalam kehidupannya dikenal sebagai sosok yang
sangat sederhana, rendah hati, penuh ketulusan dan religius. Disisi lain Hatta dikenal sebagai sosok yang
religius, namun dibalik semua itu ternyata Hatta juga merupakan sosok yang
modern. Hal ini dikarenakan Minangkabau yang merupakan tempat dari kelahiran
Muhammad Hatta menjadi pusat pembaruan agama, sosial, dan politik sejak abad ke
-18 (Suleman, 2010:55). Salah satu bukti bahwa Muhammad Hatta merupakan sosok
yang modern pada waktu kecil Muhammad Hatta sudah menemukan kesenangan hidup, Join de vivre. Salah satu kesenangan itu
ada di Plein Van Rome, lapangan sepak bola yang terletak di alun-alun kota, di
depan kantor Gemeerente, Padang (Tempo, 2002:19)
Pendidikan Muhammad Hatta dimulai
dari pendidikan agama yang beliau dapat dari Syekh Muhammad Djamil Djambek.
Pendidikan Muhammad Hatta tidak putus dengan pendidikan agama saja, melainkan
ketika itu Muhammad Hatta juga menimba ilmu di Europese Largere School (ELS) di
Bukit tinggi, 1916. Seiring dengan pendidikan yang diterima Muhammad Hatta di
Europese Largere School (ELS), pendidikan agama tidak terlupakan. Berbekal
pendidikan agama yang kuat, setelah lulus dari Europese Largere School (ELS)
Muhammad Hatta melanjutkan pendidikannya di Meer Uirgebreid Lagere School
(MULO) di Padang, 1919. Pada saat itu Muhammad Hatta mendapat pendidikan agama
dari Haji Abdullah Ahmad.
Muhammad Hatta tumbuh menjadi seorang
pribadi yang semakin sadar akan pentingnya kesadaran akan pendidikan Politik
untuk anak Bangsa, sebagai salah satu bentuk kepedulian Muhammad Hatta dalam
bidang politik pada saat itu, Muhammad Hatta menjadi pengurus Jong
Sumatranen Bond. Oleh karena, beliau merupakan sosok perpaduan
antara pemuka agama dan saudagar, sehingga seteleh menempuh pendidikan di Meer
Uirgebreid Lagere School (MULO), beliau melanjutkan pendidikannya di Handel
Middlebare School, yaitu sebuah sekolah dagang yang berada di Jakarta, tahun
1921. Kemudian, setelah menempuh pendidikan dagang di Jakarta, Muhammad Hatta melanjutkan
pendidikannya di Nederland Handelshogeschool di Rotterdam, Belanda. Disanalah
Muhammad Hatta mendapat gelar (dengan gelar Drs), 1932. Nederland
Handelshogeschool di Rotterdam, Belanda merupakan tempat terakhir beliau
menempuh pendidikannya. Namun, meskipun demikian pemikiran dan analisis beliau
mengenai politik, ekonomi, social dan demokrasi tetap beliau asah. Hal ini
dibuktikan bahwa setelah pulang dari Belanda semakin banyak tulisan-tulisan
beliau.
Keserhanaan, kesufian, dan pemikiran
yang tajam merupakan tiga dari beberapa kata yang menggambarkan sosok Muhammad
Hatta. Bukittinggi yang merupakan temapt kelahiran Muhammad Hatta mempunyai
pengaruh terhadap kehidupan Muhammad Hatta pada waktu itu. Bukittinggi memberi
gambaran pada Muhammad Hatta tentang perbedaan hidup di dalam kota dan
dusun-dusun sekitarnya. Menurut Hatta, terdapat perbedaan sistem keluarga yang
berada di Bukittinggi dengan di Minangkabau. Sistem keluarga di Bukittinggi
identik dengan sistem keluarga yang individual, sedangkan sistem keluarga di
Minangkabau identik dengan sistem keluarga yang kolektif (Hatta, 2011:16). Oleh karena, pada sistem keluarga yang
kolektif terdapat persatuan ibu-bapak-anak bahkan kakek pada waktu itu,
sehingga pada waktu itu dalam perkembangan hidupnya Muhammad Hatta mempunyai
fondasi yang kuat dalam bidang keagamman, karena memang kakek beliau dari
ayahnya adalah seorang pemuka agama yang bernama Syekh Abdurrahman atau lebih dikenala sebagai Syekh Batu
Hampar.
Bukittinggi yang merupakan tempat
kelahiran Muhammad Hatta mempunyai hawa yang sejuk. Di tempat ini terdapat
gunung merapi dan gunung Singgalang yang melingkarinya, sehingga tidak heran
jika suasana pada waktu itu sangat sejuk. Kehidupan sosial beliau dilalui
dengan sangat sederhana dan religius. Ini dibuktikan, pada waktu itu (1947)
kendati sudah menjadi pejabat tinggi, Muhammad Hatta sering jalan sendirian
tanpa pengawal berkeliling kota tanpa menggunakan pengawal. “Beliau berjalan
dengan menggunakan tongkat yang melengkung bagian atasnya” (Husein, dalam Tempo 2002:15).
Dikalangan sosial masyarakat,
Muhammad Hatta juga dikenal sebagai sosok yang bersahaja dalam menjaga
kebersihan dan dermawan. Ini dibuktikan disepanjang jalan menuju kantor beliau
ketika menjabat di Bukittinggi terlihat bersih, ketika beliau melihat
masyarakat yang membuang sampah semabarangan beliau hanya tersenyum dan
mengingatkan. Selain menjadi sosok yang bersahaja Muhammad Hatta di lingkungn
sosial masyarakay Bukittinggi juga dikenal sebagai sosok yang dermawan.
Kedermawanan beliau terlihat ketika beliau membagikan rokok kepada masyarakat
Bukittinggi ketika beliau ziarah ke Batu Hampar (1978), ketika itu pula
Muhammad Hatta menghimbau kepada masyarakat setempat untuk menjaga dan
melestarikan pohon kelapa. Menurut beliau, pohon kelapa merupakan salah satu
pohon yang mempunyai nilai guna dari akar sampai dengan daunnya (Sya’roni,
dalam Tempo 2002:17)
KONTRIBUSI MUHAMMAD
HATTA SEBAGAI KAUM NASIONALIS
Muhammad Hatta selain dikenal
sebagai sosok yang sederhana, beliau juga terkenal dengan ketajaman berfikir,
analisis dan keahliannya dalam bidang menulis. Hingga, ketika beliau wafat 1980
meninggalkan 30.000 ribu judul buku (Tempo,
2002:11). Dari tulisannya, beliau banyak menyumbangkan gagasan pemikiran
mengenai eksistensi Bangsa Indonesia sebelum dan sesudah Kemerdekaan. Muhammad
Hatta dan Soekarno merupakan sosok Negarawan yang dikenal sebagai The Founding Father (Bapak pendiri
Bangsa), namun perbedaan diantara keduanya, Soekarno lebih ahli dalam bidang
orasi, sehingga terdapat sebutan sebagai Singa
Podium. Sedangkan Muhammad Hatta lebih dikenal melalui tulisannya. Salah
satu dari beberapa karya beliau sebelum Kemerdekaan Indonesia yaitu Beliau
merupakan orang yang ditunjuk oleh Soekarno untuk menuliskan pemikirannya dalam
teks proklamasi. Soekarno berkata, “Aku persilahkan Bung Hatta menyusun teks
ringkas sebab bahasanya yang kuanggap yang terbaik” (Hatta, 2011:91).
Sebenarnya teks proklamasi tersebut sudah dibuat pada tanggal 22 Juni 1945,
yang sekarang disebut dengan Piagam Jakarta.
Dari beberapa pemikiran Muhammad Hatta
yang dituangkan melalui tulisan maupun gagasan. Penulis, tertarik untuk
membahas pemikiran Muhammad Hatta dalam bidang pendidikan. Dan ternyata,
pentingnya pendidikan bagi eksistensi suatu Bangsa untuk rakyatnya sudah
terpikirkan oleh para pendiri Bangsa. Pemikiran Muhammad Hatta dalam pendidikan
adanya Pendidikan Nasional Baru (PNI Baru). Sejarah terbentuknya PNI Baru
berawal dari PNI, namun PNI dalam hal ini merupakan kepanjangan dari Partai
Nasional Indonesia. Partai Nasional Indonesia (PNI) merupakan partai politik
tertua yang didirikan pada 4 Juli 1927 dengan nama Perserikatan Nasional Indonesia dengan ketuanya pada saat itu
adalah Dr. Tjipto Mangunkusumo, Mr. Sartono,
Mr Iskaq Tjokrohadisuryo
dan Mr Sunaryo
(www.wikipedia.org
, diakses tanggal 17 Juni 2012).
Mr Sartono yang merupakan pemimpin dari
Partai Nasional Indonesia (PNI) berusaha menyatukan PNI dengan Partai Bangsa
Indonesia. Tujuan dari penyatuan ini yaitu terjadinya pergerakan yang sinergis antara pergerakan nasionalis berhaluan
kooperasi dan nonkoperasi yang akan dipimpin oleh dr. Soetomo (Hatta,
2011:5). Namun, hal ini ditentang oleh
cabang-cabang PNI, sehingga akhirnya PNI pun dibubarkan dan diganti Partai Indonesia. Menurut Muhammad Hatta
dengan pembubaran PNI menunjukkan bahwa para pemimpin tidak bersedia berkorban dan sangat memalukan. Hal ini dapat
menghambat pergerakan rakyat. Padahal, pada saat Muhammad Hatta berada di Perhimpunan
Indonesia, beliau mempunyai gagasan untuk menerbitkan sebuah majalah yang ini
diberi nama majalah Daulat Ra’jat, terbit
setiap 10 hari sekali. Penerbitan
majalah ini berorientasi pada Pendidikan
Kader Baru (Hatta, 2011:6). Menurut Muhammad Hatta, dengan adanya Daulat Ra’jat ini akan dapat
mempertahankan asas kerakyatan. Rakyat mempunyai kedaulatan, kekuasaan (souvereiniteit), dan rakyat merupakan
jantung dari sebuah Bangsa, sehingga menurut Muhammad Hatta dibutuhkan suatu
pendidikan bagi rakyat dalam bidang politik, perekonomian dan dalam bidang
sosial.
Muhammad Hatta tidaklah diam ketika PNI
dibubarkan oleh Mr. Sartono. Muhammad Hatta mempunyai pemikiran bahwa
pendidikan kedaulatan rakyat itu sangatlah dibutuhkan oleh Rakyat Indonesia. Atas dasar pemikiran tersebut Muhammad Hatta, Sjahrir,
Soedjadi, murad, Sjahruzah dan Teguh
yang merupakan redaksi dari Daulat Ra’jat
mengadakan pertemuan untuk membahas mengenai pendidikan atas dasar
kedaulatan rakyat. Dari pertemuan tersebut lahirlah gagasan Pendidikan Nasional
Indonesia (PNI Baru). Pemikiran
pendidikan Muhammad Hatta yang menekankan pada kedaulatan rakyat yang berupa
pendidikan kaderisasi sangat relevan jika diterapkan pada saat ini. Dengan
pendidikan kaderisasi mampu mencetak generasi yang terlatih untuk menyeleseikan
masalah-masalah yang mengancam eksistensi Bangsa dan menghambat perkembangan
bangsa (Buchori, 2005:312).
Keinginan Muhammad Hatta untuk
mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia sangatlah kuat. Hal ini dibuktikan
bahwa pada tanggal 10 September 1932, Muhammad Hatta menuliskan dua buah
karangan yang berjudul “Pendirian Kita” dan “politik dan Ekonomi”. Tulisan lain
yang disiapkan oleh Muhammad Hatta guna untuk memperjuangkan gagasannya
mengenia Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru) yaitu pada majalah Daulat Ra’jat No. 37, tanggal 20
September Muhammad Hatta menuliskan gagasannya yang berjudul “Pendidikan” dan “Krisis Dunia dan Nasib
Rakyat Indonesia”. Menurut (Hatta, 2011:26) dasar pemikiran pendidikan berupa
Pendidikan Nasional Indonesia sebagai berikut:
“Organisasi
kita, kaum Daulat Rakyta, bernama Pendidikan Nasional
Pendidikan!Bukan atau belum lagi
partai. Bukan karena khilaf atau curiga diambil nama ”Pendidikan”, melainkan
dengan sengaja
Orang yang
kurang paham menertawakan perkumpulan kita sebagai “Sekolah-sekolahan”
Muhammad Hatta menyadari bahwa Kemerdekaan
yang telah dicapai oleh Bangsa Indonesia tidak hanya dicapai secara agitasi,
melainkan butuh sebuah pengorganisasian. Rakyat bersekolah tidak hanya di
tuntut untuk mempunyai budi pekerti dan iman yang kuat, melainkan rakyat harus
mendapat suatu pendidikan. Pendidikan yang diberikan oleh rakyat harus
mempunyai kejelasan yang pasti, sehingga jika sebelumnya dasar dari pendidikan
rakyat hanya sebagai dendang persatuan, maka
menurut Muhammad Hatta dasar pemikiran Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru)
yaitu Kedaulatan Rakyat. Asas
Kedaulatan Rakyat ini berdasarkan pemikiran bahwa rakyat merupakan bagian
terpenting bagi eksistensi suatu Bangsa, sehingga perlu pengakuan atas
eksistensi rakyat. Rakyat bebas menentukan nasibnya sendiri. Selain itu, hal
lain yang mendasari pemikiran Pendidikan Nasional Indonesia dengan berasaskan
pada Kedaulatan Rakyat, Muhammad
Hatta berharap dengan adanya pendidikan kedaulatan rakyat ini dapat mengubah
stereotype rakyat bahwa eksistensi suatu bangsa tidak hanya berada di tangan
para pemimpin.
Dasar Pendidikan Nasional Indonesia yang
berupa kedaulatan rakyat juga bisa disebut sebagai Demokrasi Rakyat, sehingga
pada pemikiran pendidikan ini perhatian utama dari Muhammad Hatta juga bisa
dikatakan dalam bidang Demokrasi Rakyat. Nasib rakyat ditentukan oleh, dari dan
untuk rakyat. Oleh karena rakyat diberi kekuasaan penuh untuk menentukan
nasibnya, sehingga dalam pendidikan yang digagasa oleh Muhammad Hatta ini tugas
utamanya yaitu mendidik rakyat supaya timbul semangat merdeka pada diri mereka
masing-masing. Hal ini bukan hal yang mudah, sebab dibutuhkan suatu sinergitas
antara kesadaran demokrasi, iman, budi pekerti, dan kemauan yang keras (Hatta,
2011:26). Pada saat itu 30 September 1932 terdapat gagaan bahwa Pendidikan
Nasional Indonesia akan digabungkan dengan Persatuan Partai Indonesia. Namun,
secara sepihak Muhammad Hatta kurang menyetujui hal ini. Sebab, jika Pendidikan
Nasional Indonesia (PNI Baru) digabungkan dengan Persatuan Partai Indonesia
tidak akan sesuai dengan gagasan Muhammad Hatta yang dituliskan dalam majalah Daulat Ra’jat No. 36, tanggal 10
September yang judulnya “Penderitaan Kita” (Hatta, 2011:29)
Pemikiran-pemikiran brilliant dari Muhammad Hatta ini, selain di dapat dari membaca
berbagai Koran dan media. Muhammad Hatta juga terinspirasi dari
pemikiran-pemikiran Tjokroaminoto yang didapat melalui surat kabar Utusan
Hindia, dan Agus Salim melalui Neratja. Dari inilah Kesadaran
politik Hatta makin berkembang. Dalam bidang politik Muhammad Hatta
terinspirasi dari Abdul Moeis, beliau karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah
atau pertemuan-pertemuan politik.
KONSEP PENDIDIKAN
KEDAULATAN RAKYAT
Konsep pendidikan kedaulatan rakyat yang
digagas oleh Muhammad Hatta yaitu pendidika kaderisasi. Dalam pandangan
Muhammad Hatta dengan pendidikan kaderisasi yang didapat oleh rakyat akan
mengantarkan pada Bangsa yang lebih baik. Muhammad Hatta berpendapat bahwa
rakyat mempunyai kekuasaan yang penuh atas Bangsa, sehingga dibutuhkan suatu
pendidikan yang berbasis pada kaderisasi guna untuk menyiapkan kader-kader
Bangsa. Konsep dari pendidikan kedaulatan yang berbasis kedaulatan rakyat ini
dalam implementasinya, Muhammad Hatta menggagas bahwa perlu diadakannya
kursus-kursus atau pelatihan kepada rakyat.
Muhammad Hatta beserta pemimpin dari
Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru) pada waktu itu memberikan contoh
kursus atau pelatihan pada masyarakat berupa masuk bui dan pembuangan, hal ini
bertujuan agar mentalitas rakyat Indonesia tahan uji (Hatta, 2011:30).
Diperlukannya suatu kursus atau pelatihan pada rakyat Indonesia karena Muhammad
Hatta lebih mengedepankan pada pendidikan yang dapat menganalisis keadaan
nyata. Bagi takyat yang ingin mengikuti pendidikan kaderisasi ini mereka harus
melalui beberapa pokok tahapan ujian masuk. Pokok-pokok yang diujikan oleh Muhammad
Hatta beserta para pemimpin Pendidikan Nasional pada waktu itu ialah :
1. Sejarah
umum Indonesia dalam garis besarnya, terutama sejarah pergerakan timbulnya
Boedi Oetomo, dengan mengetahui perbedaan antara politik kooperaso dan
nonkoperasi.
2. Inmperialisme
dalam pertumbuhannya.
3. Kapitalisme
dalam perkembangannya.
4. Kolonialisme.
5. Kedaultan
Rakyat.
Dengan
pengetahuan pengetahuan mengenai nasionalisme dan kursus ataupun pelatihan maka
diharapkan bisa memunculkan kader-kader Bangsa yang berkualitas. sebab untuk
membela suatu Bangsa dibutuhkan suatu pergerakan bukan hanya agitasi semata.
IMPLEMENTASI DALAM
PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA
Pendidikan
Nasional Indonesia merupakan pendidikan yang berbasisi pada kedaulatan rakyat.
Konsep dari pendidikan ini yaitu kaderisasi, yang berupa pelatihan atau kursus.
Pendidikan Nasional Indonesia ini mempunyai 3 Konstitusi yaitu untuk mencerdaskan rakyat dalam hal
pendidikan politik, pendidikan ekonomi, dan pendidikan sosial (pidato Bung Hatta
dalam reuni Pendidikan Nasional Indonesia yang diterbitkan di Bogor tahun 1968).
Pada salah satu pasal pada Pendidikan Nasional Indonesia yang digagas oleh
Muhammad Hatta yaitu Asas kedaulatan rakyat. Segala hukum
haruslah bersandar pada perasaan keadilan dan kebenaran yang hidup dalam hati
rakyat dan aturan penghidupan haruslah sempurna dan berbahagia bagi rakyat
kalau ia beralaskan kedaulatan rakyat. Asas kedaulatan rakyat ini menjadi
sendi pengakuan oleh segala jenis manusia yang beradab, bahwa tiap-tiap bangsa
mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri” (www.wordpress.com, diakses tanggal 28
Juni 2012).
Salah
satu implementasi dari Pendidikan Nasional Indonesia yaitu gagasan Muhammad
Hatta mengenai perekonomian Negeri. Rakyat mempunyai kekuasaan penuh terhadap
perekonomian Negeri ini, dan segala sesuatu yang mengenai itu harus
diseleseikan secara mufakat. Sebagai salah satu contoh pemikiran Muhammad Hatta
mengenai perekonomian yang melibatkan adanya campur tangan rakyat yaitu gagasan
Muhammad Hatta mengenai ekonomi terpimpin. Pemikiran Muhammad Hatta mengenai
ekonomi terpimpin ini dituangkan dalam pasal 33 UUD 1945, yaitu
“..perekonomian disusun sebagai usaha bersama
berdasarkan asas kekelurgaan. Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara
dan yang ,menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oelh Negara. Bumi air dan
kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negaradan dipegunakan
untuk sebesar-besarnay untuk kemakmuran rakyat
Dengan
adanya UUD 1945 pasal 33 ini menunjukkan bahwa secara ideologis, Muhammad Hatta
ingin membangun sistem ekonomi yang sesuai dengan watak bangsa Indonesia yang
menjunjung prinsip tolong menolong (sosialisme) (Abbas, 2010:7). Implementasi
dari pasal 33 UUD 1945 yaitu gagasan Muhammad Hatta mengenai koperasi. Jadi,
bisa disimpulkan bahwa salah satu Pendidikan Nasional Indonesia yang mempunyai
asas kedaulatan rakyat 3 konstitusi
yaitu adanya koperasi.
Menurut Muhammad Hatta dengan adanya
koperasi itu merupakan salah satu bentuk dari adanya kedaulatan rakyat.
Muhammad Hatta memperjuangkan koperasi ini bersifat kekeluargaan. Koperasi yang
digagas oleh Muhammad Hatta merupakan gagasan ekonomi, sosialis dan
kesejahteraan. Tujuan dari koperasi yang digagas oleh Muhammad Hatta yaitu
adanya solidaritas dan individualitas.
Solidaritas antar anggota koperasi sangat diperlukan demi mewujudkan
kekeluargaan, namun di satu sisi juga diperlukan individualitas agar
masing-masing anggota memiliki dorongan untuk lebih maju.
KESIMPULAN
Muhammad Hatta merupakan sosok yang
agamis, mempunyai pemikira yang brilliant,
dan analisisnya sangat tajam. Salah satu pemikiran dari Muhammad Hatta
dalam bidang pendidikan yaitu adanya Pendidikan Nasional Indonesi (PNI Baru). Asas dari pendidikan ini yaitu kedaulatan
rakyat. . Rakyat mempunyai kedaulatan, kekuasaan (souvereiniteit), dan rakyat merupakan jantung dari sebuah Bangsa,
sehingga menurut Muhammad Hatta dibutuhkan suatu pendidikan bagi rakyat dalam
bidang politik, perekonomian dan dalam bidang sosial. Salah satu cara dalam pendidikan ini yaitu
dengan cara memberikan pendidikan kaderisasi. Menurut Muhammad Hatta pendidikan
kaderisasi merupakan salah satu cara menuju pendidikan yang seutuhnya. Menurut
Muhammad Hatta, kemerdekaan Indonesia tidak hanya dicapai melalui agitasi saja
melainkan juga dicapai melalui pengorbanan. Diharapkan dengan pendidikan
kaderisasi mampu mencetak generasi yang terlatih untuk menyeleseikan
masalah-masalah yang mengancam eksistensi Bangsa dan menghambat perkembangan
bangsa. Pendidikan kederisasi ini ditempuh melaui pelatihan atau kursus. Salah
satu pelatihan yang diterapkan oleh Muhammad Hatta pada waktu yaitu waktu itu
memberikan contoh kursus atau pelatihan pada masyarakat berupa masuk bui dan
pembuangan, hal ini bertujuan agar mentalitas rakyat Indonesia tahan uji.
Pendidikan Nasional Indonesia ini mempunyai 3
Konstitusi yaitu untuk
mencerdaskan rakyat dalam hal pendidikan politik, pendidikan ekonomi, dan
pendidikan sosial. Salah satu implementasi dari Pendidikan
Nasional Indonesia yaitu gagasan Muhammad Hatta mengenai perekonomian Negeri.
Rakyat mempunyai kekuasaan penuh terhadap perekonomian Negeri ini, dan segala
sesuatu yang mengenai itu harus diseleseikan secara mufakat. Sebagai salah satu
contoh pemikiran Muhammad Hatta mengenai perekonomian yang melibatkan adanya
campur tangan rakyat yaitu gagasan Muhammad Hatta mengenai ekonomi terpimpin.
Pemikiran Muhammad Hatta mengenai ekonomi terpimpin ini dituangkan dalam pasal
33 UUD 1945. Implementasi dari pasal 33 UUD 1945 yaitu gagasan Muhammad Hatta
mengenai koperasi. Jadi, bisa disimpulkan bahwa salah satu Pendidikan Nasional
Indonesia yang mempunyai asas kedaulatan
rakyat 3 konstitusi yaitu adanya koperasi.
DAFTAR
PUSTAKA
Hatta, M. 2011. Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi.
Jakarta: Penerbit Buku Kompas
Hatta, M. 2011. Menuju Gerbang Kemerdekaan. Jakarta:
Penerbit Buku Kompas
Hatta, M. 2011. Berjuang dan Dibuang. Jakarta: Penerbit
Buku Kompas
Tempo, 2002. Hatta Jejak yang Melampaui Zaman. Jakarta:
Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia
Hatta, M 1967. Ekonomi Terpimpin. Jakarta: Penerbit Djambatan
Buchori, Mochtar. 2005.
Indonesia Mencari Demokrasi. Yogyakarata:
InsistPress
Suleman,
Zulfikri. 2010. Demokrasi Untuk
Indonesia:Pemikiran Politik Bung Hatta. Jakarta: Penerbit Buku Kompas
Abbas, Anwar. 2010. Bung Hatta dan Ekonomi Islam. Jakarta:
Penerbit Buku Kompas
Alam,
W T. 2006. Demi Bangsaku: Pertentangan
Bung Karno VS Bung Hatta. Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
suweca, I ketut 2011. Bung Hatta, Demokrasi Ekonomi, dan Pasar Tradisional diakses melalui (http://sosbud.kompasiana.com/2011/10/12/bung-hatta-demokrasi-ekonomi-dan-pasar-tradisional/ diakses tanggal 23 Juni 2012
------,
2012. Demokrasi dalam Perspektif Bung
Hatta diakses melalui (http://madjidpolitika.wordpress.com/2012/03/20/demokrasi-dalam-perspektif-bung-hatta/
diakses tanggal 23 Juni 2012)
No comments:
Post a Comment